MukhtarFB, 05 Desember 2020/21.08 WIB

Al Baiti jannati, Rumahku adalah surgaku. Salah satu maqolah yang cukup terkenal dikalangan masyarakat Islami. Surga yang menjadi tujuan hidup, merupakan cita-cita seluruh manusia di muka bumi ini. Akan tetapi bagaimana menciptakan surga di rumah sendiri apalagi pada saat pandemi saat ini yang mewajibkan seluruh pekerjaan dilakukan di rumah. Untunglah dalam Islam kegiatan manusia mulai dari bangun tidur hingga menuju tidur kembali di malam hari telah menerapkan aturan-aturan yang sudah tertulis dan terkoordonasi secara berimbang dalam buku panduannya yakni Al Quran dan Al Hadits.
Al Quran merupakan suatu kitab yang berisi mengenai penjelasan-penjelasan maupun konsepsi untuk apa manusia hidup di dunia ini. Tentu saja karena merupakan kitab panduan maka keseluruhan hal yang berkaitan manusia mulai dari segi individu hingga sosial kemasyarakatan, Al Quran telah menyediakannya bagi muslim yang menginginkan selamat fiduniya wal akhirah. Begitu pula al hadits yang berfungsi sebagai taqrir (ketetapan) dan al bayan (penjelas) dari Al Quran yang masih bersifat mujmal (umum) untuk memudahkan manusia memahami segi-segi mutasyabihatnya Al Quran.
Kembali pada pembahasan awal, apa sajakah hal-hal yang telah dituliskan Al Quran dan Alhadits untuk menciptakan konsep Rumahku adalah Surgaku di dunia ini. Sebab untuk menciptakan konsep ini dalam masyarakat modern tentu memiliki sejumlah tantangan-tantangan akibat efek globalisasi yang memiliki kontribusi positif maupun negatif dalam menciptakan suatu keluarga yang utuh sesuai Al Quran dan As Sunah.
Tanamkan Aqidah Yang Kuat Dalam Diri Keluarga.
Aqidah dalam Islam meliputi pengakuan/ keyakinan secara mendalam tentang keEsaan Allah baik dalam Dzat maupun sifat-Nya dan mempercayai bahwasanya Nabiyullah Muhammad Saw. diutus oleh Allah untuk menyempurnakan kehidupan manusia dengan addinul Islam. Mengapa menggunakan kalimat menyempurnakan? bukankah Nabi Muhammad Saw Membawa pesan damai berupa Islam di muka bumi? Jawabannya adalah tidak. Seluruh nabi dan rasul diutus Allah SWT dimuka bumi dengan membawa ISLAM sebagai tujuan para nabi dan rasul ini dan disempurnakanlah keislaman di muka bumi dengan diutusnya Rasulullah SAW. Dengan turunnya Al Maidah ayat 3 merupakan sertifikat resmi dari Allah bahwasanya Islam telah sempurna dan tidak akan ada lagi penyempurna lainnya sampai pada hari kiamat. Membangun Aqidah yang kuat dalam keluarga adalah hal mutlaq yang harus dilakukan. Bukankah Allah telah memberikan petunjuk dalam Al Qur’an dalam surah Al An’am ayat 162-163 :
قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ١٦٢ لَا شَرِيكَ لَهُۥۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ١٦٣
Artinya : Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”
Kita harus percaya pada Allah bahwasanya Allah menurunkan suatu penyakit di dunia ini dengan tujuan-tujuan-Nya yang jelas maupun tersembunyi. Allah SWT menurunkan wabah seperti saat ini bisa berupa ujian, bala atau malapetaka, musibah, atau bisa jadi rahmat. Wabah sebagai ujian dari Allah untuk melihat bagaimana kualitas iman hamba-Nya di dunia ini. Apakah dengan adanya wabah yang Allah turunkan di dunia memberikan efek yang positif ataukah negatif. Jika positif maka selayaknyalah kita selalu bertafakkur dan selalu bertaqarrub padanya dan berkhusnudzon dengan wabah ini. Jika negatif maka selayaknyalah kita selalu memohonkan ampunan kepada Allah sebab kita telah lalai dengan ujian Allah ini. Wabah sebagai bala malapetaka atau musibah maka kita harus bermuhasabah diri pada diri sendiri apakah Allah memberikan dunia ini wabah karena suatu hal yang membuat Allah murka.
Betapa banyak kemaksiatan yang menjangkiti masyarakat dewasa ini hingga mereka bahagia dengan perbuatan ini. Betapa banyak keangkuhan dan kepongahan manusia di bumi ini sebab kepintarannya, kekayaannya, kesempatannya hingga kedudukannya seingga dia lalai dalam mengingat urusan kepada Allah dan urusannya kepada sesama manusia. Tidak ingatkan kita dengan sikap Qarun dan Tsalabah Ibn Hathib al Anshari ? mereka awalnya adalah sahabat nabiyullah Musa AS dan Muhammadd Saw yang beriman kepada Allah. Akan tetapi karena kekufurannya dan kesombongannya, harta melimpah yang meraka miliki tidak berarti apa-apa pada hidup mereka. Harta Qarun lenyap tertelan tanah, dan harta Tsalabah tidak diterima zakatnya oleh Nabi dan ke tiga Khalifah sesudah Rasulullah (Tsalabah meninggal pada zaman Khalifah Usman bin Affan ra.) dan Allah pun mengancamnya dengan QS At Taubah : 34-35:
…….. وَٱلَّذِينَ يَكۡنِزُونَ ٱلذَّهَبَ وَٱلۡفِضَّةَ وَلَا يُنفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ فَبَشِّرۡهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٖ ٣٤ يَوۡمَ يُحۡمَىٰ عَلَيۡهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكۡوَىٰ بِهَا جِبَاهُهُمۡ وَجُنُوبُهُمۡ وَظُهُورُهُمۡۖ هَٰذَا مَا كَنَزۡتُمۡ لِأَنفُسِكُمۡ فَذُوقُواْ مَا كُنتُمۡ تَكۡنِزُونَ ٣٥
Artinya : …… Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”
Ini adalah salah satu bukti bahwasanya kekufuran dan perbuatan maksiat manusia tidak akan menyelamatkan manusia itu sendiri melainkan akan membawa petaka yang Maha Dahsyat dari Allah SWT. Semoga kita dijauhkan dari sifat terkutuk tersebut.
Wabah sebagai rahmat dari Allah. Mungkin kalimat berikut terasa aneh dibaca oleh kita dan dicerna sebab mana mungkin suatu penyakit dapat dikatakan rahmat ? Bagiamana kita dapat menanamkan konsep wabah sebagai rahmat pada keluarga kita ? Di awal kita sudah memberikan konsep bahwa seluruh hidup dan mati kita hanyalah untuk Allah. Ketimbang kita menganggap wabah ini hanya sebagai musibah, kita bisa memetik hikmah yang tersirat didalamnya yakni sebagai umat-Nya kita harus menyedari betapa kita selama ini telah berbuat melampaui batas. Kesenangan dan kebahagiaan yang tidak kita bagi bersama umat manusia maupun makhluq Allah lainnya membuat kita semakin ujub dan bangga sehingga melupakan Sang Maha Pemberi Bahagia. Di berita dapat kita lihat bagaimana eksploitasi besar-besaran sumber daya alam untuk kepentingan segelintir manusia, penambahan polusi gas rumah kaca sehingga menimbulkan efek negatif di bumi ini, pembangunan pemukiman hingga menggusur habitat dan ekosistem satwa-satwa liar semua itu berbuah menjadi wabah yang kita alami.
Wabah sejatinya merupakan rahmat dari Allah bahkan menjadi tambang ibadah bagi manusia, asalkan kita sikapi dengan sabar dan berhusnudzon kepada Allah SWT. Dalam Haditsnya Rasulullah SAW. bersabda : “Sampar (wabah) adalah azab yang Allah timpakan kepada siapa saja yang Dia kehendaki, tapi Allah menjadikannya rahmat bagi orang-orang yang mumin. Apabila seseorang terkena sampar, kemudian dia berdiam diri di rumahnya dengan sabar, mengaharap pahala dan tahu bahwa tidak ada yang mengenainya selain apa yang Allah takdirkan, ia mendapat pahala seperti orang yang mati syahid (HR Bukhari).
Dalam hadits diatas dapat kita rinci, bagaimana wabah dapat menjadi rahmat bagi orang-orang mumin. Nabi menjelaskan ada tiga syarat yang dapat menjadikan wabah menjadi suatu rahmat bagi orang-orang mumin yakni :
Berdiam di rumah dengan sabar
Rasa bosan, kesal, dan perasaan negatif lainnya dapat tercampur aduk ketika manusia sebagai makhluk sosial harus memutuskan sementara fitrah manusia yang satu ini. Karena dengan adanya wabah, yang terkana maupun yang tidak terkena harus merasakan protokol kesehatan yang telah nabi ajarkan yakni berdiam diri dirumah dengan sabar. Sabar disini memiliki makna yang sangat luas pengertiannya. Sabar dalam arti memperhatikan kesehatan lahir dan batin walaupun tetap dalam rumah, memperhatikan ibadahnya dan selalu memohon petunjuk kepada Allah dengan meminta belas kasihan-Nya agar Allah segera mencabut wabah yang tengah mendera penderita maupun negeri ini.
Sabar bukan diartikan dengan berdiam diri tanpa adanya usaha atau ikhtiar. Disini beliau menegaskan bahwa sabar harus pula diniatkan untuk mengharap ridho Allah. Buatlah suatu hal yang positif ketika berada di dalam rumah, tetaplah berinteraksi walaupun dibatasi dengan menggunakan alat komunikasi, serta jangan lupa bahwa berdiam di dalam rumah bagi penderita wabah dapat pula diniatkan sebagai ibadah kepada Allah Taala.
Mengaharap pahala
Syarat yang nabi ajarkan pula yang kedua bagaimana menjadikan wabah sebagi rahmat adalah mengharap pahala. Bagaimana kita mengharap pahala ketika badan berada di dalam rumah ? Buatlah kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk mengeruk pahala sebanyak-banyaknya. Mulailah dengan menulis, bercerita, berkumpul bersama keluarga bagi yang tidak menderita wabah/ penyakit, terapkan social distancing disekitar rumah, pakailan masker untuk melindungi agar penyakit tidak masuk dalam tubuh kita, bernasehat-nasehatlah sesama keluarga maupun ketika interaksi dalam sosial media dan banyak kegitan positif lainnya yang kita maksudkan untuk mengharap pahala yang sebanyak-banyaknya.
Percaya akan takdir yang Allah berikan
Kemudian syarat terakhir adalah percaya akan apa yang dituliskan Allah terhadap takdir manusia. Aqidah yang kuat akan mengantarkan suatu keluarga meletakkan Allah dan rasul-Nya lebih tinggi dari apapun bahkan terhadap anggota keluarganya sendiri. Memercayai qadha dan qadar Allah merupakan suatu keharusan bagi setiap muslim untuk mempercayainya entah itu takdir baik maupun takdir buruk.
Jadi, sebaiknya kita jadikan bahan renungan bahwasanya hubungan kita dengan alam tidak selamanya bersimbiosis mutualisme namun ada kalanya kitalah yang menjadi parasit bagi alam sehingga Allah menurunkan wabahnya agar perilaku kita dapat terkontrol kembali. Manfaatkan waktu luang bagi keluarga kita untuk mengaji dan mengkaji Al Quran sebab Allah sendiri telah berjanji dalam Al Quran yakni QS Al Hijr : 82:
وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٞ وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارٗا ٨٢
Artinya “Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian”.
(bersambung..)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *